« 35 Minggu... | Main | PULANG... PULANG... PULANG... »

Sunday, 18 February 2007

Cerita Bagus [Ibu}

softdrink_82 - [ Ibu ] Jakarta,

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang
kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita
melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan
berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif
atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula.

Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang
terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah
sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi
penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan.
Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah
terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang
tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter
berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu".
Sayapun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap
pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta
izin saya" Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.
"Memang harganya berapa dok?" Tanya saya.
Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik."
"Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?
Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil".

Setelah menarik napas panjang saya berkata,
"Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?"
Saat itu butiran air bening mengalir di pipi.

Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali
lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang
Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan."
"Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta
bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami
deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena
istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu
kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya,
pak." jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat
ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya
Tuhanku. aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu,
akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan
Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah
aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku. gerangan keburukan apa
yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku
yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku
begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan
Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun
mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku.
Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah
Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan
kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam
keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya
sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri
mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75
saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata
berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat. yang ngambil uangku
kualat." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh
ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa
sayalah yang mengambil uang itu.
Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan
ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya
akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah
penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan
mengambil uang yang ia miliki itu." Setelah menarik nafas panjang saya
tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga
buah hati saya.

Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya
bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan
uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang
lalu?"
"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil,duit
itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada
yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban
itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya. yang ngambil uang itu
saya, bu. saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf. saat nanti
ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu."
Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon
saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang
ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil
adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja
isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah
memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa
darinya. Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di
ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata
"Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas.
Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan
operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya
merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya
berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan
dokter."

Saya meninggalkan ruangan dokter itu.... dengan berbisik pada diri
sendiri "Ibu, I miss you so much."
Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller
KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

Comments

Subhanallah...
Kalau mencuri uang ibu saja bisa mendapat cobaan seperti itu, bgmn denganku yg telah terlalu banyak membuat orang yang dulu selalu menjaga tubuh mungil dan lemah ini selalu mengeluarkan air mata.
Tp sampai skrng msh amat terlalu malu untuk mengutarakan kata-kata "maaf".

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .